Perubahan Kepemilikan dan Aktivitas Perdagangan Saham Telkom Indonesia (Persero) Tbk – Oktober 2025
Perubahan Kepemilikan • 6 minutes read

Perubahan Kepemilikan dan Aktivitas Perdagangan Saham Telkom Indonesia (Persero) Tbk – Oktober 2025

Perubahan Kepemilikan dan Aktivitas Perdagangan Saham Telkom Indonesia (Persero) Tbk – 3 November 2025

Per akhir Oktober 2025, data kepemilikan saham Telkom Indonesia (Persero) Tbk (IDX: TLKM) menunjukkan pergeseran signifikan antara investor domestik dan asing. Total saham yang beredar tetap sebesar 990.622.166 lot, namun distribusi persentase kepemilikan berubah: investor lokal memegang 19,70 % (93,407.233 lot) turun 0,60 poin persentase dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan investor asing meningkatkan kepemilikan menjadi 80,30 % (380,679.809 lot), naik 0,60 poin. Pergerakan ini tercermin dalam aktivitas perdagangan pada 5 November 2025, dengan harga penutupan 3.550 Rupiah, volume transaksi 1.338.931 lot, dan kenaikan harga sebesar 1,43 %.

Struktur Kepemilikan Saham

Investor Lokal

Investor domestik terbagi menjadi beberapa kategori utama: asuransi, korporasi, dana pensiun (dapen), bank, individu, reksa dana, sekuritas, yayasan, serta kategori “lain‑lain”. Pada akhir September 2025, total saham yang dimiliki oleh investor lokal berjumlah 93.407.233 lot (19,70 % dari total). Dibandingkan dengan data sebelumnya (sebelum penurunan 0,60 % poin), terdapat penurunan signifikan pada beberapa segmen:

  • Asuransi menurun dari 11,54 % menjadi 11,25 % (penurunan 0,29 poin) dengan penurunan 1.362.236 lot.
  • Korporasi turun dari 0,41 % menjadi 0,37 % (penurunan 0,04 poin) dengan penurunan 198.481 lot.
  • Dapen berkurang dari 1,14 % menjadi 1,1 % (penurunan 0,04 poin) dengan penurunan 203.205 lot.
  • Individu mengalami penurunan terbesar di antara segmen domestik, dari 3,67 % menjadi 3,48 % (penurunan 0,19 poin) dengan pengurangan 939.543 lot.
  • Reksa Dana sedikit menurun dari 3,23 % menjadi 3,21 % (penurunan 0,02 poin) dengan pengurangan 101.553 lot.

Sementara segmen sekuritas mencatat kenaikan kecil sebanyak 10.860 lot (dari 123.115 menjadi 133.975 lot), dan yayasan hampir stabil dengan penurunan minimal 1.631 lot.

Investor Asing

Investor asing tetap menjadi pemegang saham mayoritas dengan 380.679.809 lot (80,30 %). Pada periode yang sama, terdapat peningkatan pada hampir semua kategori:

  • Bank naik dari 15,26 % menjadi 15,65 % (penambahan 0,39 poin) dengan tambahan 1.834.272 lot.
  • Reksa Dana mengalami kenaikan paling signifikan, dari 27,47 % menjadi 27,86 % (penambahan 0,39 poin) dengan penambahan 1.816.274 lot.
  • Dapen sedikit naik menjadi 14,58 % (penambahan 0,04 poin) dengan tambahan 182.462 lot.
  • Asuransi turun sedikit menjadi 3,04 % (penurunan 0,16 poin) dengan penurunan 748.969 lot.
  • Korporasi naik menjadi 2,48 % (penambahan 0,09 poin) dengan tambahan 439.529 lot.
  • Sekuritas naik menjadi 1,86 % (penambahan 0,04 poin) dengan tambahan 192.059 lot.
  • Lain‑lain (kategori yang mencakup investor institusi non‑bank, dana hibah, dll.) menurun dari 14,28 % menjadi 14,09 % (penurunan 0,19 poin) dengan pengurangan 918.671 lot.

Kombinasi peningkatan pada bank, reksa dana, dan sekuritas menegaskan peran kuat lembaga keuangan asing dalam mendukung likuiditas TLKM.

Komposisi Pemegang Saham “Retail” dan “Hidden Big Player”

Data “ritelcompotion” mengindikasikan penurunan persentase kepemilikan retail (investor individu) secara bertahap dari 5,80 % pada November 2024 menjadi 3,48 % pada Oktober 2025. Pada September 2025, persentase retail tercatat 3,67 %, menurun 0,19 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan penurunan kepemilikan individu pada sisi lokal dan meningkatnya kepemilikan institusi asing.

Sementara itu, “hidden_big_player” yang mencakup pemegang saham tersembunyi (biasanya institusi besar yang tidak mengungkapkan identitas secara publik) menunjukkan kenaikan dari 95,28 % pada September 2024 menjadi 96,52 % pada Oktober 2025. Kenaikan 1,24 poin persentase ini menandakan konsentrasi kepemilikan yang semakin tinggi pada segmen institusi besar, terutama investor asing yang tidak mengungkapkan detail kepemilikan secara lengkap.

Pergerakan Harga Saham dan Volume Perdagangan

Data transaksi pada 5 November 2025 menampilkan harga pembukaan 3.600 Rupiah, tertinggi 3.630 Rupiah, terendah 3.530 Rupiah, dan pada saat berita ini ditulis harga  3.550 Rupiah. Kenaikan harga sebesar 1,43 % dibandingkan penutupan sebelumnya menunjukkan sentimen positif meskipun volume perdagangan (1.338.931 lot) masih berada pada level menengah. Nilai kapitalisasi pasar pada saat itu tercatat Rp351,67 miliar, mencerminkan valuasi yang relatif stabil meskipun terjadi pergeseran kepemilikan antara investor domestik dan asing.

Analisis Historis Harga Saham (Juni 2023 – September 2025)

Riwayat harga saham TLKM memperlihatkan fluktuasi yang cukup dinamis selama dua setengah tahun terakhir. Pada Juni 2023, harga berada di kisaran 184.638 Rupiah, kemudian naik secara konsisten hingga mencapai puncak 230.928 Rupiah pada Agustus 2024. Penurunan signifikan terjadi pada September 2024 (218.493 Rupiah) dan kembali naik menjadi 227.734 Rupiah pada Oktober 2024. Pada awal 2025, harga berada di kisaran 221.000‑230.000 Rupiah, namun pada kuartal ketiga 2025 terjadi penurunan tajam menjadi 180.374 Rupiah pada September 2025. Penurunan ini bertepatan dengan penurunan kepemilikan retail dan peningkatan konsentrasi kepemilikan institusi asing.

Implikasi terhadap Investor

Investor Ritel

Penurunan persentase kepemilikan retail menjadi 3,48 % pada Oktober 2025 menandakan bahwa investor individu semakin mundur dari pasar TLKM. Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi meliputi:

  • Ketidakpastian regulasi di sektor telekomunikasi.
  • Persepsi bahwa nilai wajar saham sudah tercapai atau bahkan overvalued.
  • Keterbatasan likuiditas pada segmen ritel dibandingkan dengan institusi.

Investor ritel sebaiknya memperhatikan indikator fundamental perusahaan, terutama arus kas operasi dan prospek pendapatan dari layanan digital yang terus berkembang.

Investor Institusi (Domestik)

Penurunan kepemilikan pada segmen asuransi, korporasi, dan dana pensiun menandakan rebalancing portofolio yang mungkin dipicu oleh kebutuhan likuiditas atau perubahan kebijakan alokasi aset. Meskipun demikian, posisi asuransi masih menjadi pemegang saham terbesar di antara investor domestik (11,54 %). Institusi domestik dapat mempertimbangkan kembali eksposur mereka mengingat peran strategis TLKM dalam infrastruktur digital nasional.

Investor Asing

Kenaikan kepemilikan institusi asing, khususnya bank dan reksa dana, mengindikasikan kepercayaan yang kuat terhadap prospek jangka panjang TLKM. Peningkatan partisipasi asing dapat meningkatkan likuiditas dan menurunkan volatilitas harga, namun juga meningkatkan risiko konsentrasi kepemilikan. Investor asing tampaknya menilai TLKM sebagai aset defensif dengan dividend yield yang relatif stabil dan eksposur ke layanan data serta 5G.

Pengaruh Scripless dan Big Player Tersembunyi

Persentase saham scripless (tidak terdaftar atas nama pemilik) tetap konstan pada 47,86 % selama periode yang diamati. Tingginya persentase scripless mencerminkan bahwa hampir setengah dari total saham tidak tercatat secara langsung atas nama pemilik akhir, yang dapat menyulitkan analisis kepemilikan sebenarnya.

Selain itu, “hidden_big_player” yang mencapai 96,52 % pada Oktober 2025 menegaskan dominasi institusi besar yang tidak mengungkapkan identitasnya. Kombinasi antara scripless tinggi dan hidden big player yang kuat menandakan bahwa pasar TLKM didominasi oleh pemegang saham institusional yang cenderung memiliki strategi investasi jangka panjang.

Prospek Kedepan

Beberapa faktor kunci yang dapat mempengaruhi pergerakan TLKM ke depan meliputi:

  • Implementasi jaringan 5G – Telkom Indonesia berada pada posisi strategis untuk menjadi infrastruktur utama jaringan 5G di Indonesia. Keberhasilan roll‑out dapat meningkatkan pendapatan layanan data secara signifikan.
  • Regulasi dan Kebijakan Pemerintah – Kebijakan tarif, lisensi spektrum, dan kebijakan pajak dapat mempengaruhi profitabilitas.
  • Persaingan di Sektor Digital – Munculnya pemain baru dalam layanan streaming, cloud, dan fintech dapat menambah tekanan kompetitif.
  • Kondisi Makroekonomi – Fluktuasi nilai tukar rupiah, suku bunga, dan inflasi akan berdampak pada biaya modal dan daya beli konsumen.

Jika Telkom berhasil memanfaatkan peluang 5G dan layanan digital, ekspektasi dividend payout ratio yang konsisten dapat menarik kembali minat investor ritel. Sebaliknya, konsentrasi kepemilikan pada institusi asing dapat menimbulkan risiko geopolitik atau kebijakan pembatasan kepemilikan asing di masa depan.

Kesimpulan

Data pada 3 November 2025 menunjukkan perubahan struktural yang signifikan dalam kepemilikan saham Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Investor asing memperkuat posisinya menjadi mayoritas 80,30 %, sementara kepemilikan lokal menurun menjadi 19,70 %. Retail investor mengalami penurunan persentase kepemilikan, sedangkan institusi besar (termasuk hidden big player) menguasai hampir seluruh saham yang tidak tercatat secara langsung (scripless). Harga saham tetap stabil pada 3.550 Rupiah dengan volume perdagangan menengah, menandakan pasar masih likuid namun sensitif terhadap perubahan sentimen.

Bagi para pelaku pasar, penting untuk memantau:

  • Perkembangan jaringan 5G dan layanan digital Telkom.
  • Kebijakan regulator yang dapat mempengaruhi profitabilitas.
  • Pergerakan kepemilikan institusi asing, terutama pada segmen bank dan reksa dana.
  • Kondisi makroekonomi yang dapat memicu perubahan alokasi aset.

Dengan pemahaman yang mendalam terhadap dinamika kepemilikan dan faktor fundamental, investor dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi dalam menghadapi volatilitas pasar saham TLKM ke depan.